JENIS AIR SUSU IBU (ASI) DAN KANDUNGAN GIZI DALAM ASI

JENIS AIR SUSU IBU (ASI) DAN KANDUNGAN GIZI DALAM ASI

Jusnia Paluseri S.KM

JENIS AIR SUSU IBU (ASI) DAN KANDUNGAN GIZI DALAM ASI rumah puspa mom and baby care bekasi

Perempuan adalah makhluk Allah SWT yang sangat istimewa, dikarenakan perempuan mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh kaum lelaki. Diantaranya mengandung, melahirkan dan menyusui. Semua perempuan akan merasa sempurna ketika dinyatakan hamil oleh dokter, namun ketika melahirkan bayi yang mungil, tidak semua perempuan atau ibu mampu menyusui bayinya dengan maksimal. Bahkan ada yang lebih memilih menggantikan ASI dengan susu formula yang beragam merek. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, mulai dari kurangnya pengetahuan terkait kandungan gizi yang ada dalam ASI, tahu tapi acuh dan yang paling sering ditemukan adalah karena alasan medis.

(Sri Astuti et al, 2015) mengatakan bahwa ASI atau Air Susu Ibu mengandung komponen makronutrien dan mikronutrien. Komponen yang termasuk makronutrien adalah karbohidrat, potrein dan lemak, sedangkan mikronutrien mencakup vitamin dan mineral, dan hampir 90% tersusun dari air. Selain itu, volume dan komposisi nutrien ASI berbea untuk setiap ibu tergantung dari kebutuhan bayi. Contohnya, pada satu sampai lima hari pertama melahirkan, tubuh menghasilkan kolostrum yang sangat kaya protein.

Jika demikian, maka seorang itu tidak perlu khawatir dan ragu dengan zat gizi yang terkandung dalam ASI., karena makanan dan minumanan terbaik bagi bayi baru lahir hingga berusia enam bulan adalah air susu ibu. Seorang ibu juga tidak perlu panik, ketika ada perubahan bentu ASI dari kental ke bentuk cair, karena masing – masing bentuk ASI memiliki manfaat dan kandungan gizi tersendiri. Berikut akan dijelaskan beberapa jenis ASI yang seri ditemukan saat menyusui.

1.    ASI Kolostrum

Menurut (Lawrance dan Lawrance 2005 dalam Maria, 2012), kolostrum diproduksi sejak kira – kira minggu ke-16 kehamilan (aktogenesis) dan siap untuk menyongsong kelahiran. Kolostrum ini berkembang menjadi ASI yang matang / matur, pada sekitar tiga sampai empat hari setelah persalinan. Kolostrum merupakan suatu cairan kental berwarna kuning / jingga yang sangat pekat, tetapi terdapat dalam volume yang kecil pada hari – hari awal kelahiran, yang menjadikannya makanan ideal bagi bayi baru lahir. Vulume yang kecil ini memfasilitasi koordinasi pengisapan, menekan dan bernapas pada saat yang bersamaan di hari – hari awal kehidupan. Bayi baru lahir mempunyai ginjal yang belum sempurna dan hanya sanggup menyaring cairan dengan volume kecil. Kolostrum juga mempunyai efek membersihkan, membantu membersihkan perut dari mekanium, yang mengurangi kemungkinan kuning/ikterus.

Kolostrum berisi antibodi serta zat – zat anti infeksi seperti IgA, Lisosoun, laktoferian, dan sel – sel darah putih dalam konsentrasi tinggi, dibandingkan dengan ari susu biasa. Juga kaya akan faktor – faktor pertumbuhan serta vitamin – vitamin yang larut dalam lemak, khususnya vitamin A. (Stables dan Rankin, 2010 dalam Maria, 2012)

Dikarenakan ASI kolostrum pada awal kelahiran masih diproduksi dalam jumlah sedikit, bahkan hanya satu sendok teh sekali perah. Maka ibu dan keluarga terutama suami tidak perlu khawatir, serta panik sang bayi akan kelaparan, karena bayi baru lahir masih memiliki pasokan lemak yang bertahan selama dua sampai tiga hari. Lambung bayi juga masih sebesar kelereng, maka dengan meminum satu sendok ASI kolostrum saja sudah mampu mengenyangkan bayi.

Dari pengalaman penulis, kebanyakan ibu menyusui yang mengeluh tidak keluarnya ASI sejak hari pertama kelahiran sampai hari kedua, bahkan ada yang sampai hari keempat. Sehingga sang bayi diberikan susu formula dengan alasan bayi akan kelaparan dan dehidrasi. Jika diantara kalian mengalami masalah yang sama saat hari pertama melahirkan, maka kalian disarankan untuk tetap tenang dan tidak stres, karena stres akan menghambat produksi ASI. Salah satu cara atau alternatif yang harus dilakukan ialah melakukan pemijatan dibagian leher, punggung, tulang belakang (sela – sela kiri dan kanan tulang belakang, dimulai dari leher menuju tulang ekor, menggunakan ibu jari dengan bentuk gerakan rotasi atau memutar mengikuti arah jarum jam).

Dilanjutkan dengan pemijatan bagian payudara, menggunakan tiga jari (telunjuk, jari tengah, jari manis), menggerakkan tiga jari tersebut berbentuk rotasi, dari pangkal payudara (bagian atas payudara) hingga ariola  (bagian hitam yang mengililingi puting payudara). Kemudian perah menggunakan jari tangan, dengan posisi jam 12 dan jam 6 (ibu jari berada pada posisi jam 12, sedangkan jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking berada pada posisi jam 6, tepat dibagian bawah payudara), lali gerakkan jari dari pangkal menuju bagian ariola, kemudian tekan. Lakukan secara berulang untuk hasil yang maksimal.

Baca juga: Kebutuhan ASI dan ukuran lambung pada bayi baru lahir

2.    Susu Transisi (Transition Milk)

Susu ini adalah susu yang di produksi dalam dua minggu awal (lagtogenesis I), volume susu bertambah secara bertahap, konsentrasi imunoglobin menurun dan terjadi penambahan unsur yang menghasilkan panas (calorific contant), lemak dan laktosa. (Stables dan Rankin, 2010 dalam Maria, 2012)
ASI transisi mengandung banyak lemak dengan susu (laktosa), sedang pada saat penyapihan kadar lemar dan protein meningkat seiring bertambah banyaknya kalenjer payudara. Walaupun kadar protein latosa dan nutrien yang larut dalam air sama pada setiap periode menyusui, tetapi kadar lemaknya meningkat. (Sri Astuti et al, 2015)

3.    Susu Matur (Matur Susu)

Kandungan susu matur dapat berfariasi diantara waktu menyusi. Pada awal menyusi, susu ini kaya akan protein, laktosa dan air “fire milk”, dan ketika penyusunan berlanjut,  kadar lemak bertambah secara bertahap, sementara volume susu berkurang “bind milk”. Terjadi penambahan lemak yang signifikan pada pagi hari dan awal sore hari. (Kent et al, 2006 dalam Maria, 2012)

Dari penjelasan di atas, diharapkan para ibu menyusui mampu memberikan ASI ekslusif kepada sang buah hati dari hari pertama kelahiran, sampai bayi berusia enam bulan. Tanpa khawatir bahwa ASI yang keluar tidak mencukupi kebutuhan bayi, dan tidak mengandung gizi seimbang. Perlu diingat bahwa bentuk ASI yang kental, encer, atau berbeda warna, masing – masing memiliki kandungan gizi berbeda – beda dan penting bagi pertumbuhan bayi. Peran suami dalam kesuksesan pemberian ASI sangat berpengaruh, maka suamipun dianjurkan untuk mengambil peran di dalamnya.

Kandungan gizi yang ada dalam ASI tidak perlu diragukan lagi, bahkan kecanggihan teknologi yang ditemukan manusia hebat sekalipun tidak mampu mengalahkan kualitas ASI. Berikut ini, akan dijelaskan beberapa kandungan atau komposisi gizi di dalam Air Susu Ibu (ASI).

1.    Karbohidrat

Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi yang diperlukan oleh manusia, untuk menambah energi dalam beraktifitas. Bayi baru lahirpun sangat membutuhkan zat gizi karbohidrat, sebagai sumber energi untuk otak. Sebagaimana yang dijelaskan oleh (Sry Astuti et al, 2015), bahwa karbohidrat yang menjadi penyusun utama ASI adalah laktosa dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali lipat dibandingkan laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula.

Namun demikian, angka kejadian diare yang disebabkan karena tidak dapat mencerna laktosa (intoleransi laktosa) jarang ditemukan pada bayi yang mengkonsumsi ASI. Hal ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih baik dibandingkan laktosa susu sapi atau susu formula. Manfaat lain dari laktosa yaitu  mempertinggi absorpsi kalsium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Sesudah melewati tahap ini, maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil.

(Maria, 2012) juga memiliki penjelasan yang sama bahwa laktosa merupakan karbohidrat utama dalam ASI (98%), dan dengan cepat dapat diurai menjadi glukosa. Laktosa penting bagi pertumbuhan otak dan terdapat konsentrasi dalam susu manusia dibandingkan dengan susu mamalia lainnya. Laktosa juga mengatur volume produksi susu melalui cara osmosis.

2.    Protein

Protein dalam ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein kasein dan lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah protein kasein yang terdapat dalam ASI hanya 30% dibandingkan susu sapi yang mengandung protein ini dalam jumlah tinggi (80%). Selain itu, betalaktoglobulin yaitu fraksi dari protein whey yang berpotensi menyebabkan alergi banyak terdapat pada susu sap (Sry Astuti et al, 2015).

Protein dadih atau (whey protein) mengandung protein anti – infeksi, sementara kasein penting untuk mengangkut kalsium dan fosfat. Laktoferin mengikat zat besi, memudahkan absorpsi dan mencegah pertumbuhan bakteri di dalam usus. Faktor bifidus yang tersedia untuk mendukung pertumbuhan lactobacillus bifidus (bakteri baik) untuk menghambat bakteri jahat dengan jalan meningkatkan pH tinja bayi. Taurin juga dibutuhkan untuk menghubungkan atau mengkonjugasikan garam – garam empedu dan menyerap lemak pada hari – hari awal, serta membentuk mielin sistem saraf (Maria, 2012).

Kualitas protein ASI juga lebih baik dibandingkan susu sapi yang terlihat dari profil asam amino (unit yang membentuk protein). ASI mempunyai jenis asam amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah asam amino taurin. Asam amino ini hanya ditemukan dalam jumlah sedikit di dalam susu sapi. Taurin diperkirakan mempunyai peran pada perkembangan otak karena asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang. Taurin ini sangat dibutuhkan bayi prematur, karena kemampuan bayi prematur untuk membentuk protein sangat rendah. (Sry Astuti et al, 2015)

ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik yang tersusun dari basa nitrogen, karbohidrat, dan fosfat) dibandingkan dengan susu sapi yang mempunyai zat gizi ini dalam jumlah sedikit. Selain itu, kualitas nukleotida ASI juga lebih baik dibandingkan susu sapi. Nukleotida ini mempunyai peran dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri dalam usus, serta meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh (Sry Astuti et al, 2015).

3.    Lemak

Lemak merupakan sumber energi utama dan menghasilkan kira – kira setengah dari total seluruh kalori susu. Lipid terutama terdiri dari butiran – butiran trigliserid, yang mudah dicerna dan yang merupakan 98% dari seluruh lemak susu ibu (RCM, 2009 dalam Maria- 2012). ASI terdiri dari asam lemak tak jenuh rantai panjang yang membantu perkembangan otak dan mata, serta saraf dan sistem vaskuler. Namun, lemak yang terdapat dalam susu ibu bervariasi sepanjang menyusui, bertambah bila payudara kosong (Czank et al., 2007 dalam Maria, 2012). Payudara penuh diasosiasikan dengan jumlah lemak yang lebih tinggi (Kent, 2007 dalam Maria, 2012).

Terdapat beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dengan susu sapi atau formula. Lemak omega-3 dan omega-6 yang berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Selain itu, ASI juga mengandung banyak asalam lemak rantaiasam arakidonat (aracidonic acid, ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina mata. Susu sapi tidak mengandung kedua komponen ini. Oleh karena itu, hampir semua susu formula dtambahkan DHA danARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tentunya tidak sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah lemak total di dalam kolostrum lebih sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi mempunyai presentase asam lemak rantai panjang yang tinggi (Sry Astuti et al, 2015.

ASI mengandung asam asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang seimbang, dibandingkan dengan susu sapi yang lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Sepertinya yang telah kita ketahui, konsumsi asam lemak jenuh dalam jumlah banyak dan lama tidak baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. (Sry Astuti et al, 2015)

4.    Zat Besi

Bayi – bayi yang diberi ASI tidak membutuhkan suplemen sebelum usia enam bulan, karena rendahnya kadar zat besi dalam ASI yang terikat oleh laktoferin, yang menyebabkannya menjadi lebih terserap (bioavailable) dan dengan demikian mencegah pertumbuhan bakteri – bakteri di dalam usus. Susu formula mengandung kira – kira enam kali lipat “zat besi bebas”yang kurang terserap sehingga memacu perkembangan bakteri dan risiko infeksi. Elemen lainnya terdapat dalam konsentrasi lebih rendah dibandingkan dengan yang ada dalam susu formula, tetapi dianggap ideal karena mudah diserap (Walker, 2010 dalam Maria, 2012).

Kandungan zat besi di dalam ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi. Namun, bayi yang mengkonsumsi ASI mempunyai risiko yang lebih kecil untuk mengalami kekurangan zat besi dibandingkan dengan bayi yang mengkonsumsi susu formula. Hal ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI lebih mudah diserap, yaitu sebanyak 20%  - 50% dibandingkan formula yang hanya 4% - 7% (Sry Astuti et al, 2015).

5.    Vitamin

Vitamin yang ada dalam ASI jenisnya beragam, tetapi terdapat dalam jumlah yang relatif sedikit. Vitamin K yang berfungsi sebagai faktor pembekuan jumlahnya sekitar seperempat jika dibandingkan dengan kadar dalam susu formula. Dengan demikian, untuk mencegah terjadinya pendarahan, maka perlu diberikan vitamin K pada bayi baru lahir yang diberikan dalam bentuk suntikan. Demikian pula dengan vitamin D, karena jumlahnya yang juga sedikit, maka bayi tetap membutuhkan tambahan vitamin D yang berasal dari cahaya matahari. Hal inilah yang menjadi alasan pentingnya bayi baru lahir untuk berjemur pada pagi hari. (Sry Astuti et al, 2012)

Vitamin lainnya yang juga terdapat dalam ASI adalah vitamin A dan vitamn E. Vitamin A yang terdapat dalam ASI jumlahnya cukup tinggi. Tidak hanya itu, ASI juga memproduksi beta-karoten sebagai bahan baku pembentukan vitamin A. Selain untuk kesehatan mata, vitamin A juga penting untuk memacu pembelahan sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan, vitamin E memiliki fungsi yang tidak kalah penting, karena fungsinya dalam ketahanan dinding sel darah merah. Kekurangan vutamin E dapat mengakibatkan terjadinya kekurangan darah (anemia hmolitik) (Sry Astuti et al, 2012).

Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, ada juga vitamin larut air yang terkandung di dalam ASI, diantarana adalah vitamin B1, B2, B6, B9 (asam folat), dan vitamin C. Hampir semua vitamin yang larut dalam air terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI (Sry Astuti, 2012).

6.    Elektrolit dan Mineral

Kandungan elektrolit dalam ASI sepertiga lebih rendah dari susu formulla, dan 0,2% natrium, kalium dan klorida. Kalsium, fosfor dan magnesium terkandung dalam ASI dalam konsentrasi lebih tinggi dibandingkan dalam plasma (Maria, 2012).

Tinggi rendahnya mineral dalam ASI tidak dipengaruhi oleh status gizi ataupun makanan yang dikonsumsi oleh ibu. Mineral yang terkandung dalam ASI adalah kalsium, dan vitamin D ini mengakibatkan kalsium dalam ASI bisa diserap dengan baik oleh bayi. Mineral lainnya yang juga terkandung di dalam ASI adalah zinc yang berguna untuk membantu proses metabolisme, dan selenium yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan (Sry Astuti et al, 2015).

Dengan penjelasan kandungan gizi yang ada dalam ASI di atas, diharapkan dapat menambah informasi bagi para ibu hamil dan para suami dalam menanti kehadiran sang buah hati tercinta. Atau bagi para ibu menyusui dan para suami yang sedang bingung dengan masalah yang dihadapi terkait dengan ASI. Perlu diingat bahwa, semahal atau sebagus apapun kemasan susu formula, tidak dapat menggantikan kandungan gizi yang ada di dalam air susu ibu (ASI), bahkan dianjurkan agar memberikan ASI hingga sang bayi memasuki usia dua tahun.

Berpuasa Bagi Wanita Hamil

Berpuasa Bagi Wanita Hamil

Bagi wanita hamil, selaras dengan alam berarti dia beserta keluarganya turut mendukung kesehatannya dan menyediakan semua kebutuhan bayi yang sedang tumbuh di dalam kandungan. Untuk menjadi sehat dan melahirkan bayi yang sehat, wanita hamil butuh menghirup udara segar, minum air bersih, dan makan makanan yang sehat dan alami. 

Wanita hamil perlu mencari keseimbangan antara kegiatan berolah raga ringan dan kegiatan lainnya seperti bekerja, berekreasi, berdoa, dan beristirahat. Semua wanita hamil bermimpi memiliki bayi yang sehat, bahagia, pintar, dan kreatif. Bukuini didedikasikan bagi mimpi itu karena wanita yang sehat lebih cenderung melahirkan bayi yang sehat pula. 

Ibu hamil harus ingat dia harus makan untuk dua orang. Bahkan, jika mengandung bayi kembar, berarti harus makan untuk tiga orang. Ini bukan berarti harus makan dua kali lebih banyak, namun selama hamil dan menyusui memang perlu meningkatkan jumlah kalori yang dikonsumsi. Ini artinya ibu perlu dua kali lebih sadar akan makanan yang dikonsumsi. Pilihlah makanan alami yang bergizi agar anda sehat. Dengan demikian, bayi akan lebih sehat pula. (Ibu Robin Lim, “Ibu Alami”)

Puasa adalah subyek yang kontroversial, karena wanita hamil mungkin merasa lebih spiritual dan karena itu jika mereka Muslim, mereka mungkin benar-benar ingin ikut dalam puasa Ramadhan.

“Jika seorang wanita hamil mengkawatirkan dirinya dan wanita menyusui mengkawatirkan anaknya di bulan Ramadhan (jika mereka berdua berpuasa) maka mereka berdua berbuka dan membayar fidyah untuk setiap hari dengan memberi makan kepada seorang miskin, dan keduanya tidak mengqodho.” (Diriwayatkan oleh At-Thobari no 2758. Syaikh Al-Albani berkata, “Isnadnya shahih sesuai dengan persyaratan Imam Muslim lihat al-Irwaa 4/19).

Allah menganggap setiap bayi berharga dan ingin para ibu untuk melakukan semua yang mereka bisa untuk melindungi generasi berikutnya, termasuk makan dan minum dengan baik saat hamil dan menyusui. Harap anjurkan para ibu untuk tidak perlu terlalu banyak khawatir. 

Kekhawatiran yang berlebihan bisa berbahaya bagi ibu dan bayi. Hal ini karena hormon stres, kortisol, dapat menghambat pertumbuhan otak bayi. Anjuran kepada para ayah, jika mereka ingin bayinya cerdas, mereka harus membuat istri mereka bahagia. Tertawa adalah obat terbaik. (Ibu Robin Lim, “Bidan Alami”)

Sebuah penelitian dilakukan oleh ilmuwan AS berdasarkan sensus di AS, Irak, dan Uganda. Penelitian itu menemukan wanita hamil yang berpuasa cenderung memiliki bayi lebih kecil. Bayi kecil tersebut juga cenderung rentan kesulitan belajar ketika besar.

Para peneliti dari Columbia University itu menemukan tren ini paling kelihatan ketika ibu hamil berpuasa pada awal kehamilannya dan selama musim panas ketika hari terang lebih panjang. Itu artinya puasa berjalan lebih panjang pada musim panas. Buat ibu hamil itu ternyata membahayakan kesehatan janinnya.

Dr. Frizar Irmansyah, Sp.OG, dokter spesialis kebidanan dari RS Pusat Pertamina, mengatakan bahwa puasa pada dasarnya diperbolehkan untuk ibu hamil yang keadaan ibu dan bayinya sehat. Dengan keadaan hamil tanpa masalah, bahkan trimester pertama pun dibolehkan berpuasa.

Selama kondisi kesehatan wanita hamil dan janin yang dikandungnya setelah dilakukan pemeriksaan dinyatakan sehat, maka wanita hamil diperbolehkan untuk berpuasa dengan syarat ibu hamil tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi baik bagi dirinya maupun janin yang dikandungnya. 

Pemenuhan nutrisi ini harus sama dengan kondisi ketika tidak berpuasa cuman yang berbeda pemenuhan nutrisi ini dipindah waktunya tentunya dilakukan pada saat sahur dan berbuka puasa serta antara waktu berbuka puasa dan sahur.

Kandungan nutrisi dan gizi yang seimbang sekitar 2.500 kalori dalam sehari, dengan komposisi 50% karbohidrat (sekitar 308 gram), 30% protein (sekitar 103 gram), dan 10-20% lemak (sekitar 75 gram). 

Pemenuhan nutrisi bisa dilakukan dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna yang terdiri dari nasi, sayur, lauk pauk, buah, dan susu setiap kali bersantap buka dan sahur. Anda juga bisa menambahkan suplemen vitamin yang diyakini cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil selama berpuasa. 
Di samping itu, ada beberapa zat penting yang diperlukan saat kehamilan, di antaranya asam folat, zat besi dan kalsium. Asam folat diperoleh dari kacang-kacangan, zat besi didapatkan dari sayuran, sementara sumber kalsium bisa didapatkan dari susu dan ikan.


Berikut ini kondisi ibu hamil yang tidak diperbolehkan puasa:

 

1.    Menderita diabetes mellitus

Ibu hamil dengan diabetes harus menjalani pola makan sedemikian rupa agar gula darah tetap terkontrol. Karena itu, ibu hamil dengan diabetes tidak disarankan berpuasa. Pasalnya, selain harus menjalani terapi obat secara teratur, ibu hamil juga harus mematuhi program makan yang telah dibuatkan supaya kadar gula dalam darah bisa tetap terkontrol/bisa tetap stabil.

2.    Hipertensi

Tekanan darah selama kehamilan harus terkontrol dengan baik. Terlebih lagi pada ibu yang tekanan darahnya harus dikontrol dengan obat-obatan. Tekanan darah yang naik turun harus dihindari karena berbahaya buat kesehatan ibu dan bayinya.

3.    Perdarahan

Puasa pada saat menjalani kehamilan dengan perdarahan akan menambah parah perdarahan tersebut. Ibu hamil sebaiknya konsultasi dengan dokter kandungan untuk mengatasi keadaan ini.

4.    Sakit maag

Memaksakan diri berpuasa pada ibu hamil yang punya sakit maag akan memberi peluang bagi kekambuhan penyakit itu.

5.    Dehidrasi

Kondisi ini berbahaya untuk kesehatan ibu dan bayi dalam kandungannya. Dalam keadaan seperti ini, ibu hamil sebaiknya cepat berbuka. Terlebih lagi ibu hamil yang terancam dehidrasi karena diare, muntah-muntah, keringat dingin.

Tips :
  1. Konsumsilah makanan pemberi energi seperti gandum, beras merah dan cokelat. Jangan lupa tambahkan juga makanan tinggi serat seperti kacang-kacangan, sayuran dan buah-buahan.
  2. Hindari makanan dan minuman manis yang berlebihan saat sahur dan berbuka puasa. Hal ini menyebabkan naiknya kadar gula darah dengan cepat. Akibatnya, ibu hamil akan mudah lelah dan memicu sakit kepala. Ini disebabkan tubuh membutuhkan banyak energi untuk mengolah gula.
  3. Mengonsumsi banyak protein seperti kacang-kacangan, daging, ikan dan telur saat sahur dan berbuka puasa membantu bayi tetap tumbuh baik meski sang ibu berpuasa. Namun, makanan tersebut harus dimasak matang.
  4. Pastikan ibu hamil mengonsumsi camilan sehat. Seperti kentang, buncis kukus dan buah-buahan. Hindari camilan tinggi gula dan lemak.
  5. Agar tetap terhidrasi, ibu hamil harus minum sekitar 1,5 - 2 liter air saat berbuka puasa dan sahur. Mensiasatinya dengan cara minum 2 gelas air putih selama sahur, 3 gelas saat berbuka, dan 3 gelas sepanjang malam.
  6. Hindari kafein karena dapat menaikkan intensitas buang air kecil. Akibatnya, tubuh kehilangan banyak air dan ibu hamil akan terasa lemas dan dehidrasi. Para pakar kesehatan menganjurkan, ibu hamil mengonsumsi air kelapa saat berbuka. Pasalnya, selain sehat air kelapa juga tanpa gula buatan.
Segera batalkan puasa jika ibu hamil mengalami:
  1. Muntah-muntah lebih dari 3 kali yang dikhawatirkan menyebabkan terjadinya dehidrasi;
  2. Mengalami diare yang diikuti rasa mulas dan melilit;
  3. Mimisan yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah pertanda kondisi tubuh sudah tidak stabil;
  4. Lemas, pusing diikuti dengan mata yang berkunang-kunang pertanda hipoglikemia dikhawatirkan janin mengalami kekurangan gizi;
  5. Mengalami keringat berlebih khususnya keringat dingin pertanda bahwa tubuh bahwa kondisi fisik ibu hamil sudah tidak kuat lagi untuk berpuasa.

Penulis: Bidan Diana Arindi

Tips Berpuasa Ramadhan Bagi Ibu Menyusui

Tips Berpuasa Ramadhan Bagi Ibu Menyusui

Puasa saat menyusui? Boleh ga sih? Nanti produksi ASI-ku akan berkurang ga ya?
Nah, pasti ini menjadi pertanyaan hampir semua ibu-ibu yang sedang dalam proses menyusui si buah hati di bulan Ramadhan.. yuk kita intip artikel tentang menyusui di bulan Ramadhan ini.

Ibu menyusui yang ingin berpuasa boleh saja lho. Karena menurut penelitian puasa dalam waktu yang tidak berkepanjangan sebenarnya tidak mengurangi asupan nutrisi dan produksi ASI. Jadi jangan khawatir ya, karena ibu tetap bisa menjalankan ibadah puasa dan menyusui tanpa takut produksi dan kualitas ASI menurun.

Walaupun ibu tidak makan selama 14 jam, komposisi ASI-nya tidak akan berubah atau berkurang kualitasnya dibandingkan saat tidak berpuasa. Sebab, tubuh akan melakukan mekanisme kompensasi dengan mengambil cadangan zat-zat gizi, yaitu energi, lemak dan protein serta vitamin dan mineral, dari simpanan tubuh. Begitu ibu berbuka, tubuh akan mengganti cadangan zat-zat gizi tadi, sehingga ibu tidak akan kekurangan zat gizi untuk memenuhi aktifitas serta mempertahankan kesehatan tubuhnya. Komposisi ASI baru akan berkurang pada ibu yang menderita kurang gizi berat, sebab tidak ada lagi cadangan zat gizi yang dapat memasok kebutuhan produksi ASI yang lengkap.

Namun, sangat dianjurkan pada para ibu yang masih menyusui eksklusif (usia bayi kurang dari 6 bulan) untuk menunda berpuasa atau tidak berpuasa. Agama Islam pun memberi keringanan bagi para ibu menyusui untuk tidak berpuasa selama Ramadhan. Sebab pada masa menyusui eksklusif, ASI adalah satu-satunya asupan cairan dan gizi bagi bayi. Dalam setiap 2 sampai 3 jam sekali ibu memberikan ASI kepada bayinya. Apabila asupan makan berkurang maka kandungan zat gizi pada ASI juga berkurang. Padahal bayi yang sedang dalam masa pertumbuhan sangat memerlukan gizi yang sempurna melalui ASI sehingga pada masa ini, metabolisme tubuh ibu bekerja dengan giat untuk terus menerus memproduksi ASI dengan komposisi yang lengkap.

Nah, untuk ibu yang ingin menyusui di bulan Ramadhan, ibu perlu memperhatikan beberapa hal penting berikut agar selama puasa tidak mengalami dehidrasi yang bisa menyebabkan kualitas ASI menurun.

Memenuhi Kebutuhan Serat Lebih Banyak
Tidak hanya di bulan puasa, ibu menyusui memang harus banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat. Nah, apalagi di bulan puasa, saat ibu menyusui akan berpuasa selama hampir 13 jam tidak mengonsumsi makanan dan minuman.

Karena itu saat yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan serat saat bulan puasa adalah di saat sahur. Buatlah hidangan makanan sahur yang dilengkapi dengan sayur dan buah. Sebab kandungan serat banyak terdapat di dalam sayuran.

Mencukupi kebutuhan serat di  bulan puasa bisa mencegah ibu menyusui mengalami konstipasi. Selain itu sayuran tidak hanya kaya serat tetapi juga vitamin A, karoten, lycopene dan zat antioksidan lainnya. Kebiasaan mengonsumsi sayuran di saat sahur juga bisa membuat ibu menyusui menahan lapar lebih lama lho.
 
Istirahat yang Cukup          
Untuk menjaga stamina dan produksi ASI selama ibu menyusui menjalankan ibadah puasa maka luangkankan lah waktu untuk tidur siang. Karena salah satu cara untuk menjaga kesehatan tubuh dan menjaga kualitas ASI adalah dengan istirahat yang cukup. Ibu menyusui disarankan untuk tetap beraktivitas di pagi hari dan sore hari. Saat siang hari ibu menyusui sebaiknya beristirahat selama 60 menit dengan tidur.

Tetap Makan Tiga Kali Sehari
Salah kaprah kalau ibu menyusui tidak menjaga pola makan tiga kali sehari selama bulan puasa. Karena berpuasa bagi ibu menyusui bukan artinya menghilangkan satu kali waktu makan. Selain sahur dan berbuka puasa, ibu menyusui bisa kembali makan sebelum waktu tidur. Dengan tetap makan tiga kali sehari maka pemenuhan gizi dan nutrisi serta kualitas ASI akan terjaga baik.

Ibu menyusui juga bisa menambahkan menu segelas susu di setiap santap sahur dan berbuka puasa. Karena susu mengandung protein dan kalsium yang dibutuhkan selama menyusui. Jadi ibu menyusui bisa kok berpuasa tanpa berdampak pada produksi ASI.

 
Tetap Tenang dan Percaya Diri
Ibu hendaknya tetap tenang beribadah dan percaya diri terus menyusui, jangan merasa khawatir ASI-nya akan berkurang, sebab rasa cemas tersebut justru akan menghalangi kerja hormon Oksitosin mengeluarkan ASI dari payudara, sehingga akan nampak seolah-olah ASI ibu berkurang. Ingatlah bahwa menyusui pun juga ibadah.

 
Bagaimana kalau ibu bekerja?
Nah, kalau ibu bekerja disarankan untuk tetap melakukan kegiatan memerah ASI seperti biasa dengan tetap memperhatikan tips-tips seperti yang sudah disebutkan di atas ini. Kembali berpegang pada prinsip demand and supply, semakin banyak ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Apabila ibu menyusui yang biasa memerah menghentikan kegiatan memerahnya selama bulan puasa, maka ASI yang diproduksi dapat berkurang, yang bukan disebabkan oleh kegiatan berpuasa tetapi karena mengurangi kegiatan memerah tadi.

Bagaimanapun, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi, dahulukan kepentingan bayi. Untuk ibu yang memiliki bayi di bawah 6 bulan, memang dianjurkan untuk tidak berpuasa karena bayi sedang dalam tahap ASI Eksklusif dan belum memperoleh makanan tambahan apapun kecuali ASI.

Selamat menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan dan salam ASI!


Penulis: Bidan Bella Setia (Rumah Puspa)